Reaksi pembuatan white oil
Reaksi pembuatan white oil (mineral oil putih / paraffinum liquidum) pada dasarnya bukan satu reaksi kimia tunggal, melainkan rangkaian proses refining (pemurnian) dari fraksi minyak bumi. Proses ini menggabungkan reaksi kimia + pemisahan fisik untuk menghasilkan minyak yang sangat murni, tidak berwarna, dan bebas aromatik.
Berikut penjelasan lengkap dan teknisnya:
1. Bahan Baku – Penjelasan Reaksi Pembuatan White Oil
White oil berasal dari:
-
Crude oil (minyak mentah)
-
Fraksi hasil distilasi:
-
Vacuum gas oil (VGO)
-
Lube oil fraction
-
Komponen awal mengandung:
-
Paraffin
-
Naphthene
-
Aromatic (harus dihilangkan)
2. Tahapan Proses Reaksi Pembuatan White Oil
A. Distilasi (Pemisahan Awal)
Crude oil dipisahkan dengan:
-
-
Atmospheric distillation
-
Vacuum distillation
-
Hasil:
-
-
Fraksi pelumas (lube oil cut)
-
➡️ Ini masih kotor (mengandung sulfur, nitrogen, aromatik)
B. Solvent Extraction (Penghilangan Aromatik)
Menggunakan pelarut seperti:
-
-
Furfural
-
Phenol
-
Tujuan:
Menghilangkan:
-
-
Aromatic hydrocarbons (bersifat toksik & berwarna)
-
Prinsip:
-
-
Aromatik larut dalam pelarut
-
Paraffin tetap di fase minyak
-
C. Dewaxing (Penghilangan Lilin)
Menghilangkan wax agar:
-
-
Titik tuang (pour point) rendah
-
Stabil pada suhu dingin
-
Metode:
-
-
Solvent dewaxing (MEK + toluene)
-
D. Hydrotreating / Hydrotreating Reaction (REAKSI UTAMA)
Ini adalah tahap paling penting (reaksi kimia utama).
Reaksi umum:
Hidrogenasi senyawa tidak jenuh dan pengotor:
R−S+H2→H2S+R−HR−N+H2→NH3+R−HAromatic+H2→SaturatedHydrocarbon
Kondisi operasi:
-
-
Temperatur: 250–350°C
-
Tekanan: 30–150 bar
-
Katalis:
-
Ni-Mo/Al₂O₃
-
Co-Mo/Al₂O₃
-
-
Tujuan:
-
-
Menghilangkan sulfur (desulfurization)
-
Menghilangkan nitrogen
-
Menghilangkan warna
-
Menjenuhkan aromatik
-
E. Hydrocracking (Opsional)
Jika diperlukan viskositas tertentu pada Raksi Pembuatan white oil :
Reaksi:
Hydrocarbonberat+H2→Hydrocarbonringan
Fungsi:
-
-
Mengontrol viskositas
-
Memperbaiki kualitas
-
F. Hydrogenation Finishing (Polishing Step)
Tahap akhir untuk menghasilkan pharmaceutical grade white oil.
Reaksi:
-
-
Saturasi penuh:
-
C=C+H2→C−C
Hasil:
-
-
Tidak berwarna
-
Tidak berbau
-
Stabil
-
3. Jenis Reaktor yang Digunakan
Umumnya:
-
-
Fixed Bed Reactor (Trickle Bed Reactor)
-
Karakteristik:
-
-
Fase gas (H₂)
-
Fase cair (oil)
-
Katalis padat
-
Aliran:
-
-
Cocurrent flow (gas + liquid turun bersama)
-
4. Sifat Reaksi
Apakah endotermal atau eksotermal?
➡️ Eksotermal
Karena:
-
-
Reaksi hidrogenasi melepaskan panas
-
Dampak:
-
-
Perlu cooling system
-
Kontrol temperatur sangat penting
-
5. Sistem Pendingin (Cooler)
Digunakan:
-
-
Heat exchanger
-
Intercooler antar reaktor
-
Tujuan:
-
-
Menjaga suhu optimal
-
Mencegah runaway reaction
-
6. Parameter Kualitas pada Reaksi Pembuatan White Oil
Produk akhir harus memenuhi:
-
-
FDA / USP grade
-
Tidak mengandung:
-
Aromatik
-
Sulfur
-
Logam berat
-
-
Karakteristik:
-
-
Transparan
-
Tidak berbau
-
Stabil oksidasi tinggi
-
7. Ringkasan Reaksi Utama
Secara sederhana:
-
-
Desulfurization
-
R−S+H2→H2S
-
-
Denitrogenation
-
R−N+H2→NH3
-
-
Hydrogenation
-
C=C→C−C
-
-
Aromatic Saturation
-
Benzenering+H2→Cycloalkane
8. Insight Engineering (Penting)
Dalam skala industri:
-
Reaksi dikontrol oleh:
-
Temperatur
-
Tekanan H₂
-
LHSV (Liquid Hourly Space Velocity)
-
-
Tantangan utama:
-
Catalyst deactivation
-
Heat management
-
Hydrogen consumption
-
Kesimpulan – Reaksi Pembuatan White Oil
Raksi Pembuatan white oil adalah kombinasi:
-
-
Proses fisik (distilasi, ekstraksi)
-
Reaksi kimia (hydrogenation & hydrotreating)
-
